<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Masyarakat &#8211; Seni Ilmu Kehidupan</title>
	<atom:link href="https://www.lifescienceart.com/id/life/society/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.lifescienceart.com/id</link>
	<description>Seni Kehidupan, Ilmu Kreativitas</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Jun 2021 03:27:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i3.wp.com/www.lifescienceart.com/app/uploads/android-chrome-512x512-1.png</url>
	<title>Masyarakat &#8211; Seni Ilmu Kehidupan</title>
	<link>https://www.lifescienceart.com/id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Korea Selatan tinggalkan hitung usia yang membingungkan, sistem baru pimpin perubahan budaya dan sosial</title>
		<link>https://www.lifescienceart.com/id/life/society/south-korea-adopts-new-age-counting-system/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Zuzana]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2021 03:27:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kesetaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Korea Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[Usia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.lifescienceart.com/?p=24</guid>

					<description><![CDATA[Korea Selatan Terapkan Sistem Penghitungan Usia Baru Latar Belakang Korea Selatan secara tradisional telah menggunakan tiga sistem berbeda untuk menentukan usia: usia Korea, usia tahunan, dan usia internasional. Hal ini&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2 class="wp-block-heading">Korea Selatan Terapkan Sistem Penghitungan Usia Baru</h2>

<h2 class="wp-block-heading">Latar Belakang</h2>

<p>Korea Selatan secara tradisional telah menggunakan tiga sistem berbeda untuk menentukan usia: usia Korea, usia tahunan, dan usia internasional. Hal ini sering kali menyebabkan kebingungan, baik di dalam negeri maupun internasional.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Undang-Undang Usia Baru</h2>

<p>Pada hari Rabu, Korea Selatan secara resmi menerapkan sistem &#8220;usia internasional&#8221;, yang menetapkan bahwa bayi dilahirkan pada usia 0 tahun dan bertambah satu tahun setiap kali berulang tahun. Sistem ini sudah digunakan di sebagian besar konteks hukum dan resmi di Korea Selatan, tetapi undang-undang baru ini menstandarisasi penggunaannya secara menyeluruh.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Alasan Perubahan</h2>

<p>Menurut Lee Wan-kyu, Menteri Perundang-undangan Pemerintah, undang-undang baru ini diharapkan dapat mengurangi sengketa hukum, keluhan, dan kebingungan sosial yang disebabkan oleh sistem penghitungan usia yang berbeda.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Dampak pada Budaya Korea Selatan</h2>

<p>Korea Selatan memiliki budaya hierarkis yang sangat terkait dengan usia. Beberapa warga Korea Selatan merasa tidak nyaman dengan penyimpangan dari sistem penghitungan usia tradisional, karena hal ini dapat memengaruhi hubungan dan status sosial.</p>

<p>Namun, ada pula yang percaya bahwa undang-undang baru ini akan melemahkan kekuatan budaya tersebut dan mendorong masyarakat yang lebih egaliter. Mereka berharap undang-undang ini akan mengurangi diskriminasi usia dan memudahkan generasi muda untuk meraih kesuksesan di tempat kerja dan bidang kehidupan lainnya.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Pengecualian Undang-Undang Baru</h2>

<p>Bahkan di bawah undang-undang baru ini, usia masih akan ditentukan berdasarkan tahun, tanpa mempertimbangkan bulan, dalam kasus-kasus tertentu. Kasus-kasus ini meliputi:</p>

<ul class="wp-block-list">
<li>Penjualan produk yang dibatasi usia seperti alkohol atau tembakau</li>
<li>Pendaftaran di sekolah dasar dan wajib militer di negara tersebut</li>
</ul>

<h2 class="wp-block-heading">Reaksi Warga Korea Selatan</h2>

<p>Banyak warga Korea Selatan yang senang dengan undang-undang baru ini. Mereka mengatakan bahwa hal ini membuat mereka merasa lebih muda dan lebih mengikuti dunia luar.</p>

<p>&#8220;Menurut sistem usia Korea, tahun depan saya akan berusia 30 tahun, tetapi sekarang saya punya lebih banyak waktu dan saya menyukainya,&#8221; kata Choi Hyun-ji, seorang pekerja kantoran berusia 27 tahun di Seoul.</p>

<p>Ada pula yang lebih berhati-hati terhadap dampak undang-undang baru ini pada budaya Korea Selatan. Mereka khawatir hal ini dapat menyebabkan hilangnya rasa hormat terhadap orang tua dan penurunan nilai-nilai tradisional.</p>

<p>&#8220;Warga Korea tidak suka jika ada orang yang lebih muda menjadi atasan mereka di tempat kerja,&#8221; kata Yoon In-jin, seorang sosiolog di Korea University. &#8220;Saya ragu perubahan signifikan akan terjadi dalam waktu dekat.&#8221;</p>

<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>

<p>Undang-undang usia baru di Korea Selatan adalah perubahan signifikan yang kemungkinan besar akan berdampak besar pada budaya dan masyarakat negara tersebut. Masih harus dilihat bagaimana undang-undang ini akan diimplementasikan dan ditegakkan, serta apa dampak jangka panjangnya.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rasisme yang Meningkat di Jepang: Suara dari Penduduk Asing</title>
		<link>https://www.lifescienceart.com/id/life/society/racism-in-japan-a-growing-problem-foreign-residents-speak-out/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Zuzana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 May 2019 11:47:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[Foreign Residents]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah sosial]]></category>
		<category><![CDATA[rasisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.lifescienceart.com/?p=2157</guid>

					<description><![CDATA[Rasisme di Jepang: Masalah yang Semakin Besar Penduduk Asing Berbicara Jepang sedang mengalami peningkatan pengunjung dan penduduk asing, tetapi masuknya orang asing ini juga membawa peningkatan intoleransi rasial. Untuk mengatasi&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2 class="wp-block-heading">Rasisme di Jepang: Masalah yang Semakin Besar</h2>

<h2 class="wp-block-heading">Penduduk Asing Berbicara</h2>

<p>Jepang sedang mengalami peningkatan pengunjung dan penduduk asing, tetapi masuknya orang asing ini juga membawa peningkatan intoleransi rasial. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Jepang telah meluncurkan survei yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap 18.500 penduduk asing untuk mengumpulkan data tentang pengalaman mereka dengan diskriminasi rasial.</p>

<p>Survei, yang tersedia dalam 13 bahasa, akan meminta penduduk asing berusia di atas 17 tahun untuk menggambarkan insiden intoleransi rasial yang mereka alami di tempat kerja dan tempat lainnya. Hasilnya akan memberikan gambaran komprehensif pertama, non-anekdotal tentang tingkat rasisme yang dihadapi oleh penduduk asing di Jepang.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Masyarakat yang Berubah</h2>

<p>Keragaman Jepang yang berkembang adalah fenomena yang relatif baru. Di masa lalu, masyarakat Jepang sebagian besar homogen, tetapi saat ini, lebih dari 2 juta penduduk asing menyebut Jepang sebagai rumah mereka. Pergeseran ini telah menyebabkan peningkatan ketegangan rasial, yang sering kali dipicu oleh hukum dan norma sosial Jepang.</p>

<p>Misalnya, undang-undang kewarganegaraan Jepang didasarkan pada darah, bukan tempat lahir, yang berarti bahwa penduduk dengan kewarganegaraan ganda harus memilih antara kewarganegaraan Jepang dan asing pada usia 22 tahun. Hal ini dapat menimbulkan rasa keterasingan dan pengucilan bagi penduduk asing yang memiliki hubungan mendalam dengan Jepang.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Konfrontasi Publik</h2>

<p>Meningkatnya jumlah orang asing di Jepang juga menyebabkan peningkatan konfrontasi publik. Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa insiden diskriminasi tingkat tinggi terhadap pelanggan asing di restoran dan transportasi umum.</p>

<p>Dalam satu insiden, sebuah jaringan sushi meminta maaf karena menyajikan ikan dengan wasabi berlebihan kepada pelanggan asing. Dalam insiden lain, seorang kondektur kereta ditegur setelah menggunakan pengeras suara untuk menyalahkan orang asing karena membuat penumpang Jepang tidak nyaman.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Respons Pemerintah</h2>

<p>Pemerintah Jepang telah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi masalah rasisme. Pada tahun 2016, negara tersebut mengesahkan undang-undang pertamanya yang menentang kejahatan rasial. Namun, para kritikus berpendapat bahwa undang-undang tersebut terlalu lemah untuk secara efektif memerangi masalah rasisme yang berkembang di Jepang.</p>

<p>Survei pemerintah baru-baru ini tentang rasisme dipandang sebagai langkah positif untuk memahami tingkat masalah dan mengembangkan kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasinya.</p>

<h2 class="wp-block-heading">Tantangan dan Peluang</h2>

<p>Keragaman masyarakat Jepang yang meningkat menghadirkan tantangan dan peluang bagi negara tersebut. Di satu sisi, hal ini dapat menyebabkan meningkatnya ketegangan dan diskriminasi rasial. Di sisi lain, hal ini juga dapat memupuk pemahaman dan toleransi yang lebih besar di antara berbagai kelompok budaya.</p>

<p>Pemerintah dan masyarakat Jepang secara keseluruhan harus bekerja sama untuk mengatasi masalah rasisme dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif bagi semua orang. Hasil survei pemerintah tentang rasisme akan memberikan wawasan berharga tentang tantangan yang dihadapi oleh penduduk asing di Jepang dan membantu menginformasikan keputusan kebijakan untuk tahun-tahun mendatang.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
