{"id":13474,"date":"2024-10-26T07:55:53","date_gmt":"2024-10-26T07:55:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/?p=13474"},"modified":"2024-10-26T07:55:53","modified_gmt":"2024-10-26T07:55:53","slug":"sexism-harms-men-and-women-the-corrosive-effects-of-masculine-norms","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/science\/psychology\/sexism-harms-men-and-women-the-corrosive-effects-of-masculine-norms\/","title":{"rendered":"Seksisme: Pedang Bermata Dua, Merugikan Laki-laki dan Perempuan"},"content":{"rendered":"<h2 class=\"wp-block-heading\">Seksisme: Pedang Bermata Dua, Merugikan Laki-laki dan Perempuan<\/h2>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Maskulinitas dan Kesehatan Mental<\/h3>\n\n<p>Bukan rahasia lagi bahwa seksisme berdampak buruk pada perempuan, tetapi sebuah meta-analisis baru-baru ini mengungkapkan bahwa seksisme juga berdampak pada laki-laki. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Counseling Psychology tersebut meneliti hubungan antara norma-norma maskulin dan kesehatan mental pada hampir 20.000 laki-laki selama lebih dari 11 tahun.<\/p>\n\n<p>Hasilnya menunjukkan bahwa laki-laki yang menganut norma-norma maskulin tradisional, seperti mengandalkan diri sendiri, mendominasi perempuan, dan menjadi &#8220;playboy&#8221;, menunjukkan fungsi sosial dan kesehatan psikologis yang jauh lebih buruk. Sebaliknya, norma-norma seperti memprioritaskan pekerjaan dan karier tampaknya tidak berdampak negatif pada kesehatan mental.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Dampak Merusak dari Norma-norma Maskulin<\/h3>\n\n<p>Secara tradisional, laki-laki telah diajarkan untuk mandiri, menekan emosi, dan mencari kepuasan seksual di atas hubungan yang berarti. Norma-norma ini semakin mengisolasi laki-laki, karena masyarakat menjadi semakin tidak toleran terhadap perilaku yang pernah dianggap dapat diterima.<\/p>\n\n<p>Di dunia sekarang ini, tidak lagi dianggap &#8220;keren&#8221; untuk membual tentang pelecehan seksual atau merendahkan perempuan. Alhasil, laki-laki yang memegang pandangan misoginis ini menghadapi stigma sosial dan pengucilan yang semakin meningkat.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kemandirian dan Penekanan Emosi<\/h3>\n\n<p>Salah satu temuan studi yang paling memprihatinkan adalah bahwa laki-laki yang diajarkan untuk mandiri dan menekan emosi mereka cenderung tidak mencari perawatan kesehatan mental ketika mereka membutuhkannya. Ini adalah masalah besar, karena secara historis laki-laki kurang terwakili dalam layanan kesehatan mental.<\/p>\n\n<p>Penekanan emosi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan zat. Hal ini juga dapat mempersulit laki-laki untuk mengatasi stres dan kesulitan.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Konsekuensi Konformitas<\/h3>\n\n<p>Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita maskulin dapat menyebabkan laki-laki terlibat dalam perilaku berbahaya, baik terhadap diri mereka sendiri maupun orang lain. Misalnya, seorang anak laki-laki yang merasa kewalahan atau tidak aman mungkin beralih ke perkelahian atau perundungan sebagai cara untuk mengekspresikan emosinya. Seorang laki-laki yang berjuang dalam pekerjaannya mungkin menggunakan kekerasan terhadap pasangan atau anaknya alih-alih mencari dukungan, seperti yang disarankan oleh salah satu studi dalam meta-analisis.<\/p>\n\n<p>Ketika laki-laki dicegah untuk mencari pelampiasan emosional, mereka secara efektif terputus dari mekanisme koping yang sehat. Hal ini dapat menyebabkan siklus kekerasan, konflik, dan masalah kesehatan mental.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mereformasi Perawatan Kesehatan Mental untuk Laki-laki<\/h3>\n\n<p>Studi ini menyoroti perlunya reformasi dalam perawatan kesehatan mental untuk laki-laki. Dengan meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif dari norma-norma maskulin, kita dapat mendorong laki-laki untuk mencari bantuan ketika mereka membutuhkannya.<\/p>\n\n<p>Profesional kesehatan mental juga dapat memainkan peran dengan menyediakan layanan yang sensitif terhadap budaya dan disesuaikan dengan kebutuhan unik laki-laki. Dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi laki-laki dan membantu mereka melepaskan diri dari dampak berbahaya dari maskulinitas tradisional.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Menyadari Harga Konformitas<\/h3>\n\n<p>Meskipun penelitian ini berfokus pada dampak negatif maskulinitas pada laki-laki, penting untuk diingat bahwa seksisme juga berdampak buruk pada perempuan. Misogini melanggengkan kekerasan, diskriminasi, dan ketidaksetaraan.<\/p>\n\n<p>Menyadari dampak berbahaya dari maskulinitas tradisional adalah langkah penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara bagi semua orang. Dengan mendorong laki-laki untuk menantang norma-norma ini dan merangkul cara hidup yang lebih sehat, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua orang.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seksisme: Pedang Bermata Dua, Merugikan Laki-laki dan Perempuan Maskulinitas dan Kesehatan Mental Bukan rahasia lagi bahwa seksisme berdampak buruk pada perempuan, tetapi sebuah meta-analisis baru-baru ini mengungkapkan bahwa seksisme juga&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":24714,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[100],"tags":[25,2751,18162,18163,5323],"class_list":["post-13474","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psychology","tag-mental-health","tag-gender-equality","tag-masculinity","tag-mens-health","tag-sexism"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13474","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13474"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13474\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24715,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13474\/revisions\/24715"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24714"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13474"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13474"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13474"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}