{"id":4401,"date":"2020-09-01T09:44:34","date_gmt":"2020-09-01T09:44:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/?p=4401"},"modified":"2020-09-01T09:44:34","modified_gmt":"2020-09-01T09:44:34","slug":"covid-19-smell-disorders-parosmia-phantosmia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/science\/health-and-medicine\/covid-19-smell-disorders-parosmia-phantosmia\/","title":{"rendered":"COVID-19 dan Gangguan Penciuman: Parosmia dan Phantosmia"},"content":{"rendered":"<h2 class=\"wp-block-heading\">COVID-19 dan Gangguan Penciuman: Parosmia dan Phantosmia<\/h2>\n\n<p>COVID-19 dapat memengaruhi indra penciuman, yang menyebabkan berbagai gejala, termasuk kehilangan penciuman, parosmia, dan phantosmia.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kehilangan Penciuman<\/h2>\n\n<p>Kehilangan penciuman, atau anosmia, adalah gejala umum COVID-19, yang memengaruhi hingga 86% pasien. Kebanyakan orang mendapatkan kembali indra penciuman mereka dalam beberapa minggu, tetapi beberapa mungkin mengalami kehilangan penciuman yang terus-menerus.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Parosmia<\/h2>\n\n<p>Parosmia adalah distorsi indra penciuman, yang membuat sesuatu berbau tidak sedap atau bahkan menjijikkan. Ini adalah gejala umum COVID-19, yang memengaruhi sekitar 7% pasien. Pemicu parosmia dapat mencakup makanan seperti kopi, cokelat, dan anggur merah.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Phantosmia<\/h2>\n\n<p>Phantosmia adalah suatu kondisi di mana orang mengalami bau yang tidak ada di lingkungan. Bau-bau ini dapat bersifat sementara atau bertahan dalam waktu lama dan sering kali tidak sedap, seperti asap rokok atau kayu yang terbakar.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penyebab Gangguan Penciuman pada COVID-19<\/h2>\n\n<p>Virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19, dapat merusak neuron olfaktori yang bertanggung jawab untuk mengirimkan informasi penciuman ke otak. Virus ini juga dapat merusak sel-sel pendukung yang mengelilingi neuron ini, sehingga mengganggu fungsinya. Selain itu, peradangan yang disebabkan oleh virus dapat mengganggu fungsi saraf, yang berkontribusi pada gangguan penciuman.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pemulihan dari Gangguan Penciuman<\/h2>\n\n<p>Regenerasi neuron olfaktori dimungkinkan setelah terjadi kerusakan, tetapi ini membutuhkan waktu, hingga dua tahun atau lebih. Selama pemulihan, pasien mungkin mengalami parosmia saat sistem olfaktori secara bertahap pulih.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pemicu Parosmia dan Phantosmia<\/h2>\n\n<p>Makanan dan bau tertentu dapat memicu parosmia dan phantosmia pada pasien COVID-19. Pemicu umum meliputi:<\/p>\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Bensin<\/li>\n<li>Tembakau<\/li>\n<li>Kopi<\/li>\n<li>Parfum<\/li>\n<li>Cokelat<\/li>\n<li>Minyak sayur (misalnya, keripik tortilla, kentang goreng)<\/li>\n<\/ul>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengobatan Gangguan Penciuman<\/h2>\n\n<p>Saat ini, belum ada pengobatan pasti untuk gangguan penciuman yang terkait dengan COVID-19. Namun, penelitian yang sedang berlangsung sedang menyelidiki berbagai pendekatan, termasuk:<\/p>\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Suplemen minyak ikan<\/li>\n<li>Stimulasi transkranial<\/li>\n<li>Latihan pelatihan penciuman<\/li>\n<\/ul>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dampak Gangguan Penciuman pada Kualitas Hidup<\/h2>\n\n<p>Gangguan penciuman dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup, yang memengaruhi kenikmatan makanan, interaksi sosial, dan kesejahteraan emosional. Pasien mungkin mengalami kecemasan, depresi, dan isolasi sosial karena gangguan penciuman mereka.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penelitian yang Sedang Berlangsung<\/h2>\n\n<p>Prevalensi gangguan penciuman pada COVID-19 telah memicu peningkatan penelitian di bidang ilmu chemosensory. Kolaborasi global sedang menyelidiki hubungan antara indra kimia dan COVID-19, mengeksplorasi perawatan dan strategi baru untuk pemulihan.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>COVID-19 dan Gangguan Penciuman: Parosmia dan Phantosmia COVID-19 dapat memengaruhi indra penciuman, yang menyebabkan berbagai gejala, termasuk kehilangan penciuman, parosmia, dan phantosmia. Kehilangan Penciuman Kehilangan penciuman, atau anosmia, adalah gejala&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[463],"tags":[443,8003,700,8001,8002,8000],"class_list":["post-4401","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-health-and-medicine","tag-covid-19","tag-olfactory-dysfunction","tag-sensory-science","tag-parosmia","tag-phantosmia","tag-smell-disorders"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4401","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4401"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4401\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4402,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4401\/revisions\/4402"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4401"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4401"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4401"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}