{"id":5107,"date":"2020-11-20T07:39:28","date_gmt":"2020-11-20T07:39:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/?p=5107"},"modified":"2020-11-20T07:39:28","modified_gmt":"2020-11-20T07:39:28","slug":"growing-potatoes-in-buckets-a-comprehensive-guide","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/life\/gardening\/growing-potatoes-in-buckets-a-comprehensive-guide\/","title":{"rendered":"Panduan Lengkap Menanam Kentang dalam Ember: Solusi Kebun Rumahan yang Praktis"},"content":{"rendered":"<h2 class=\"wp-block-heading\">Menanam Kentang dalam Ember: Panduan Lengkap untuk Tukang Kebun Rumahan<\/h2>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bahan dan Peralatan<\/h3>\n\n<p>Untuk memulai petualangan menanam kentang dalam ember, Anda memerlukan beberapa bahan penting berikut:<\/p>\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ember plastik aman makanan (5-10 galon)<\/li>\n<li>Bor listrik dengan mata bor \u00be inci<\/li>\n<li>Campuran bedengan atau campuran pot<\/li>\n<li>Kompos<\/li>\n<li>Pupuk organik<\/li>\n<li>Kentang benih (pilih varietas yang sesuai untuk berkebun kontainer)<\/li>\n<li>Mulsa jerami (opsional)<\/li>\n<\/ul>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Langkah demi Langkah<\/h3>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">1. Siapkan Kentang Anda<\/h2>\n\n<p>Potong kentang benih menjadi beberapa bagian dengan minimal 2 mata masing-masing bagian. Biarkan potongan yang sudah dipotong mengering selama satu atau dua hari sebelum ditanam.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">2. Pilih Ember yang Tepat<\/h2>\n\n<p>Pilih ember yang terbuat dari plastik aman makanan dan bersihkan seluruhnya sebelum digunakan. Ember berukuran 5 galon dapat menampung 2 tanaman kentang, sementara ember berukuran 10 galon dapat menampung 4 tanaman.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">3. Buat Lubang Drainase<\/h2>\n\n<p>Balikkan ember dan buatlah lubang di bagian bawah menggunakan mata bor \u00be inci untuk memastikan drainase yang baik.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">4. Tambahkan Tanah<\/h2>\n\n<p>Isi ember dengan campuran bedengan atau campuran racikan sendiri dari 1 bagian kompos dengan 1 bagian tanah pot, sisakan beberapa inci ruang kosong di bagian atas.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">5. Tanam Kentang Benih<\/h2>\n\n<p>Beri jarak tanam kentang 5 inci dan 3 inci dari sisi ember. Tutup dengan tanah setinggi 2 inci dan siram hingga basah kuyup.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">6. Siram Secara Teratur<\/h2>\n\n<p>Siram kentang saat 1-2 inci bagian atas tanah terasa kering saat disentuh. Pemberian mulsa jerami dapat membantu menahan kelembapan.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">7. Awasi Hama<\/h2>\n\n<p>Periksa tanaman secara teratur untuk mengetahui tanda-tanda hama. Ambil hama yang lebih besar seperti kumbang kentang Colorado dengan tangan dan buang.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">8. Pemupukan<\/h2>\n\n<p>Beri pupuk kentang secara teratur dengan pupuk yang seimbang. Pupuk organik encer yang diberikan dua kali sebulan efektif untuk kentang yang ditanam dalam wadah.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">9. Tanam dengan Metode Penimbunan<\/h2>\n\n<p>Saat tanaman tumbuh, timbun tanah di sekitar pangkal batang untuk mencegah penghijauan dan mendorong pembentukan umbi. Ulangi setiap beberapa minggu.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">10. Panen<\/h2>\n\n<p>Kentang siap dipanen 60-120 hari setelah tanam, atau saat tanaman berbunga dan daun mulai berwarna cokelat.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tips Sukses<\/h3>\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Tanam tanaman pendamping (seperti nasturtium, alyssum manis) untuk mengusir hama.<\/li>\n<li>Mulsa jerami menekan gulma, mengurangi kebutuhan air, dan melindungi kentang dari sinar matahari yang berlebihan.<\/li>\n<li>Uji pH tanah sebelum tanam untuk memastikannya sesuai untuk kentang. Sesuaikan dengan sulfur elemental jika perlu.<\/li>\n<li>Gunakan tanah baru dan belilah kentang dari pemasok yang tepercaya untuk menghindari wireworm.<\/li>\n<li>Jangan gunakan kentang dari toko grosir untuk ditanam, karena dapat membawa hama.<\/li>\n<li>Awetkan kentang yang sudah dipanen selama 2 minggu di tempat yang sejuk dan kering untuk memperpanjang umur simpannya.<\/li>\n<li>Pilih varietas kentang awal, pertengahan, atau akhir musim berdasarkan jadwal tanam dan waktu panen yang Anda inginkan.<\/li>\n<\/ul>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mengatasi Masalah Umum<\/h3>\n\n<p><strong>Pertanyaan:<\/strong> Berapa lama waktu yang dibutuhkan kentang untuk tumbuh di dalam ember?<\/p>\n\n<p><strong>Jawaban:<\/strong> Biasanya 60-120 hari setelah tanam.<\/p>\n\n<p><strong>Pertanyaan:<\/strong> Ember berukuran berapa yang harus saya gunakan?<\/p>\n\n<p><strong>Jawaban:<\/strong> Setiap tanaman membutuhkan ember berukuran minimal 2,5 galon. Dua tanaman dapat ditanam dalam ember berukuran 5 galon.<\/p>\n\n<p><strong>Pertanyaan:<\/strong> Dapatkah saya menanam kentang di dalam ember di dalam ruangan?<\/p>\n\n<p><strong>Jawaban:<\/strong> Ya, asalkan kentang mendapat minimal 6 jam cahaya terang setiap hari dari matahari atau lampu tanam.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menanam Kentang dalam Ember: Panduan Lengkap untuk Tukang Kebun Rumahan Bahan dan Peralatan Untuk memulai petualangan menanam kentang dalam ember, Anda memerlukan beberapa bahan penting berikut: Ember plastik aman makanan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8813],"tags":[8811,9128,9127,4648,9129],"class_list":["post-5107","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-gardening","tag-home-gardening","tag-potato-growing","tag-container-gardening","tag-sustainable-living","tag-urban-farming"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5107","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5107"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5107\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5108,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5107\/revisions\/5108"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5107"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5107"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lifescienceart.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5107"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}